Farmasi

Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
Ditulis pada 15 September 2017 , oleh farmasi_admin , pada kategori Berita

Student Exchange Program South Korea 2017

Oleh: Shanastasia Swastila (Mahasiswa Program Studi Farmasi Angkatan 2014)

Student Exchange Program (SEP) adalah proyek terbesar IPSF yang menawarkan program magang untuk para mahasiswa farmasi di seluruh dunia. Setiap tahun, lebih dari 900 siswa di seluruh dunia diberi kesempatan untuk mengikuti magang di berbagai negara. IPSF mengatur program pertukaran dengan mencari host tempat para siswa akan dilatih. Program ini berjalan sepanjang tahun (musim dingin dan musim panas), namun sebagian besar pertukaran berlangsung antara bulan Mei hingga September. Durasi yang ditawarkan biasanya 1 sampai 3 bulan dengan minimum jam kerja selama 40 jam meliputi bidang farmasi komunitas, farmasi klinis/rumah sakit, industri farmasi, penelitian di universitas, serta badan kesehatan pemerintah atau swasta. Sebagian tuan rumah juga menyediakan akomodasi ataupun uang saku.

Pada tahun 2017, penulis yang merupakan seorang mahasiswa semester 6 diberikan kesempatan untuk mengikuti SEP di Korea Selatan selama 3 minggu sejak tanggal 01-21 Juli 2017. Sebelum mengikuti program tersebut, banyak tahap yang harus dilewati seperti menulis essay motivation letter dalam bahasa Inggris, mengikuti wawancara dalam Bahasa Inggris, membuat Curicullum Vitae (CV), dan mengisi form aplikasi online. Sebagai mahasiswa Program Studi Farmasi FKUB, penulis tidak hanya mewakili Program Studi Farmasi FKUB, namun juga sebagai utusan dari ISMAFARSI (Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia) dan membawa nama Indonesia.

SEP di Korea Selatan tahun ini diikuti oleh 8 mahasiswa farmasi yang berasal dari Indonesia, USA, Taiwan, Perancis, dan Mesir. Banyak hal yang telah dilakukan selama mengikuti SEP seperti field trip, rekreasi, welcoming party, dan membuat eksperimen di salah satu universitas terbaik di Korea Selatan. Hari pertama dan kedua diawali dengan acara welcoming party yang dilaksanakan oleh tuan rumah (KNAPS – Korean National Association of Pharmaceutical Students) di Gangchon, Korea Selatan, dimana panitia menyambut para delegasi dengan berbagai permainan tradisional Korea, melakukan olahraga air, dan diakhiri dengan pesta BBQ.

 SEP 2

Gambar 1. Welcoming Party di Gangchon, Korea Selatan

Ketika field trip, delegasi memiliki kesempatan untuk mengunjungi berbagai tempat di Korea Selatan selama 2 minggu. Beberapa tempat yang dikunjungi antara lain Ilsan Hwajeong Onnuri Pharmacy, Handok Medico-Pharma Museum and Plant, Seoul National University Hospital, Kyung Hee University Hospital, Chong Kun Dang Pharmaceutical Company, Korea Pharmaceutical Information Center, Korea Pharmaceutical and Bio-Pharma Manufacture Association, Korea Centers for Disease and Prevential, Chaewon Community Pharmacy, Catholic University of Korea St. Mary’s Hospital, serta mengunjungi The National Intelligence Service (NIS). Namun, penulis pada kesempatan kali ini hanya dapat mengikuti field trip pada minggu pertama karena pada minggu kedua penulis harus bekerja di laboratorium Ewha Womans University.

Ilsan Hwajeong Onnuri Pharmacy dan Chaewon Community Pharmacy  merupakan apotek terbaik di Korea Selatan. Sebenarnya, tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Apotek banyak bertebaran di Korea, mulai di pinggir jalan, mall dan rumah sakit. Namun, ada sedikit perbedaan seperti tidak ada tulisan tempat penerimaan resepkasir dll yang biasa dijumpai di apotek Indonesia, dan yang melayani pasien semuanya adalah apoteker. Di apotek yang penulis kunjungi tersebut dari luar tampilannya seperti apotek biasa, namun jumlah apotekernya mencapai 16 orang dalam satu apotek. Jadi, ketika pasien tiba ke apotek, pasien langsung bertemu dengan apotekernya. Ada juga sebagian pasien yang minum obat di depan apotekernya (penulis tidak begitu yakin tujuannya untuk apa). Dan penulis merasa ketika mengunjungi apotek tersebut lebih cocok disebut industri mini daripada apotek. Disana ada mesin untuk menyortir obat, jadi obat yang akan diberikan ke pasien benar-benar tidak tersentuh tangan dan dibungkus rapi dalam plastik untuk 1x pakai. Misalnya untuk pagi hari ada 3 macam obat, jadi 3 macam obat tersebut dibungkus rapi dalam satu plastik, sedangkan untuk siangnya dibungkus dalam plastik lainnya. Tujuannya agar menjaga kepatuhan pasien ketika mengonsumsi obat. Namun selain ada alat-alat canggih, di apotek tersebut juga menjual produk ginseng. Tentunya, obat-obatan yang boleh dijual di etalase adalah obat OTC, apabila pasien hendak membeli obat, mereka harus memberikan resep kepada apoteker, bahkan mereka pun tidak diperbolehkan untuk membeli antibiotik secara bebas, dimana di Indonesia hal tersebut sudah sangat umum terjadi.

SEP 3

Gambar 2. Apoteker Sedang Meracik Obat di Ilsan Hwajeong Onnuri Pharmacy

 SEP 6

SEP 5

Gambar 3-4. Mesin Penyortir Obat di Apotek

Handok Medico-Pharma Museum and Plant merupakan perusahaan farmasi terdepan di Korea, yang mengembangkan, memproduksi dan mendistribusikan solusi kesehatan untuk memperbaiki kesehatan dan kualitas kehidupan manusia. Didirikan pada tahun 1954 dan telah didedikasikan untuk mengembangkan dan menyediakan produk farmasi yang inovatif (obat resep dan obat bebas), alat kesehatan, dan diagnostik in vitro. Pada tahun 2013, Handok mengganti nama perusahaannya dari Handok Pharmaceutical Co., Ltd menjadi Handok Inc. dan menyatakan visinya untuk menjadi, “The Health Innovator” sebagai perusahaan perawatan kesehatan global terkemuka di Korea. Handok Pharmaceuticals telah menjalankan beberapa program kontribusi sosial sebagai perusahaan yang bertanggung jawab dengan membangun Museum Medico-Pharma, yang sekarang dioperasikan oleh Yayasan Handok Jeseok yang didirikan pada tahun 2006. Perusahaan ini juga menjalankan sebuah program untuk memberikan dukungan berupa beasiswa kepada siswa dalam kegiatan penelitian di bidang farmakologi. Disana, penulis dan teman-teman mengunjungi industri, melihat proses distribusi obat, pembuatan obat, membuat tablet digestive secara konvensional, serta mengunjungi museum tempat disimpannya benda-benda medis semenjak zaman Dinasti Joseon dan disana juga terdapat Korean Pharmacopoeia pertama!

 SEP 7

Gambar 5. Mengunjungi Handok Medico-Pharma Museum and Plant

SEP 8

Gambar 6. Membuat Tablet Digestive Secara Konvensional

Seoul National University Hospital (SNUH) merupakan salah satu rumah sakit tertua, terbesar, dan berada di peringkat nomor 1 di Korea Selatan yang telah beroperasi selama 130 tahun. SNUH memiiki 5 rumah sakit utama yaitu Children’s Hospital, Cancer Hospital, Bundang Hospital, Boramae Hospital, dan Healthcare System Gangnam Center. Masing-masing rumah sakit memiliki pusat pengobatan khusus sendiri sehingga rumah sakit ini menjadi salah satu rumah sakit terbesar di wilayahnya masing-masing. SNUH melakukan banyak penelitian, pelayanan masyarakat, serta menjadi sukarelawan di berbagai lokasi bencana dunia maupun di Korea Selatan sendiri. Sebagai salah satu rumah sakit terbesar di Korea Selatan, SNUH memiliki teknologi medis yang sangat modern. SNUH memiliki 1.786 tempat tidur, 1.372 dokter, 1.982 perawat, 105 farmasis, dan 523 teknisi medis. Rumah sakit ini melayani sekitar 2.314.927 pasien rawat jalan dan 626.457 pasien rawat inap tiap tahunnya.

 SEP 9

Gambar 7. Mengunjungi Seoul National University Hospital.
Berfoto bersama Direktur Rumah Sakit dan Direktur Farmasi SNUH

Kyung Hee University Hospital terletak di Kangdong-Gu, Seoul, Korea Selatan. Didirkan pada tahun 1971 dengan tujuan utama untuk berkontribusi meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan memberikan layanan kesehatan terbaik. Rumah sakit ini memiliki 30 pusat spesialis dengan 2.500 karyawan, yang terdiri dari dokter, dokter bedah, perawat, koordinator medis, dan penerjemah yang memudahkan para wisatawan kesehatan yang datang. Rumah sakit ini dilengkapi lima fasilitas besar, 15 ruang operasi, dan berbagai teknologi medis. Pusat spesialis yang tersedia di rumah sakit ini antara lain pencernaan dan pernapasan, kesehatan wanita, urologi, kanker, pengobatan tulang belakang integratif, dan pusat kebugaran. Selain itu, ada juga spesialis anak, spesialis mata, spesialis pengobatan oriental, pengobatan dalam ala Korea, serta spesialis pernapasan dan saluran kemih. Klinik kedokteran gigi juga tersedia dan memberikan layanan umum, khusus, maupun estetika seperti implan dan estetika gigi lanjutan. Kyung Hee University Hospital merupakan satu-satunya rumah sakit di Korea Selatan yang memiliki Pengobatan Oriental Korea/Pengobatan Tradisional Korea yang didasarkan pada Pengobatan Tradisional China (TCM).

SEP 11

Gambar 8. Mengunjungi Kyung Hee University Hospital dan Berfoto Bersama Direktur Farmasi Kyung Hee University Hospital

SEP 13

Gambar 9. Tempat Peracikan Obat-Obatan Tradisional Korea di Kyung Hee University Hospital

SEP 14

Gambar 10. Mengunjungi Apotek Kyung Hee University Hospital

Chong Kun Dang Pharmaceutical Corp adalah perusahaan yang bergerak dalam bisnis farmasi di Korea Selatan. Perusahaan ini menjalankan usahanya melalui penelitian, pengembangan, pembuatan dan distribusi obat-obatan. Produk utama perusahaan ini terdiri dari obat resep, termasuk granisetron hydrochloride, orlistat, montelukast sodium, tablet rivotril, kapsul tamiflu, tablet valcyte, kapsul copregrel, mono nitrat isosorbida dan lainnya, serta obat-obatan over the counter (OTC). Produknya diaplikasikan untuk pengobatan tekanan darah tinggi, leukemia, dermatitis, anemia, dispepsia, tukak lambung, influenza, infeksi, diabetes dan lain-lain. Selain itu menyediakan vitamin dan produk lainnya. Chong Kun Dang merupakan perusahaan yang telah mencapai banyak predikat ‘pertama’, ‘terbaik’, dan ‘amat terbaik’ di Korea Selatan. Ketika Korea mengimpor 100% bahan mentah yang dibutuhkan untuk obat-obatan dari luar negeri, perusahaan ini membangun pabrik sintesis dan fermentasi terbesar di Korea sehingga memungkinkan memproduksi bahan farmasi secara lokal dengan teknologi sendiri. Selain itu, perusahaan ini menjadi perusahaan farmasi Korea pertama yang mengekspor produknya ke pasar Amerika melalui penerimaan persetujuan FDA Amerika. Perusahaan ini telah bekerjasama dan mengekspor produknya ke lebih dari 60 negara di dunia dan salah satu anak perusahaannya berada di Jakarta. Pada kesempatan ini penulis diberikan kesempatan untuk mengunjungi perusahaan sekaligus industri Chong Kun Dang. Selain mengunjungi kedua tempat tersebut, kami juga diajarkan dan diberi materi mengenai cara membuat kaligrafi Korea.

SEP 16

Gambar 11. Mengunjungi Industri Farmasi Chong Kun Dang

Pada minggu kedua dan ketiga (10 Juli-21 Juli 2017), penulis mulai bekerja di laboratorium College of Pharmacy Ewha Womans University (EWU). Ewha Womans University merupakan salah satu universitas terkenal di Korea Selatan yang didirikan tahun 1886. Pada tahun 2017 berada di peringat ke-10 di Korea Selatan menurut 4icu.org. Ewha sesuai dengan namanya “Womans University” merupakan universitas swasta khusus wanita. Salah satu keunikan kampus Ewha merupakan kampus bawah tanah terbesar di Korea (6 tingkat ke bawah tanah, tempat perpustakaan, toko buku, olahraga, bioskop, kafe, ruang kuliah dan fasilitas budaya lainnya). College of Pharmacy memiliki 2 gedung yang saling terhubung (Gedung A dan Gedung B), dimana gedung A dikhususkan untuk ruang kelas dan gedung B dikhusukan untuk laboratorium. Disana penulis dibimbing oleh seorang supervisor bernama Prof. Lee Yun-Sil, Ph.D dan didampingi asisten laboratorium bernama Choi Seo Jeong. Penulis diberikan sebuah proyek penelitian yang bisa diselesaikan selama 2 minggu oleh Professor. Proyek tersebut berupa eksperimen mengenai kultur sel dari sel HT22 yang diperoleh dari sel hipokampus mencit terhadap Coniferyl Aldehyde (CA). Sel HT22 dapat digunakan untuk mempelajari sitotoksisitas glutamat, karakteristik dari banyak gangguan neurodegeneratif seperti penyakit Alzheimer dan penyakit Parkinson. Coniferyl Aldehyde (CA) merupakan senyawa fenolik yang diisolasi dari kulit batang Eucommia ulmoides menunjukkan efek sitoprotektif terhadap obat radiasi dan sitotoksik dengan menginduksi HSP (Heat Shock Protein), terutama HSP27 dan HSP70, melalui aktivasi HSF1 (Heat Shock Factor 1). Dengan demikian, HSF1 bisa menjadi target farmakologis untuk sitoproteksi. Terapi radiasi merupakan salah satu modal penting untuk mengobati kanker. Akan tetapi, toksisitas dan cedera radioterapi pada jaringan normal dan organ sekitarnya cukup besar, sehingga proyek eksperimen ini bertujuan untuk mengetahui apakah Coniferyl aldehyde memiliki efek sitoproteksi atau sitotoksik pada sel neuron. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari hasil eksperimen yang dilakukan adalah CA dengan konsentrasi 10, 30 dan 50 μM memiliki efek sitoproteksi pada sel neuron pada inkubasi selama 24 jam. Sedangkan pada inkubasi selama 48 jam, CA dengan konsentrasi 10 μM dan 30 μM efek sitoproteksi obat menurun, sementara CA 50 μM memiliki efek sitotoksisitas.

SEP 17

Gambar 12. Ewha Campus Complex (ECC)

SEP 19

Gambar 13. College of Pharmacy Ewha Womans University

Penulis merupakan satu-satunya mahasiswa asing yang melaksanakan magang di College of Pharmacy EWU. Namun, disana penulis tidak sendirian. Ada juga 2 orang mahasiswa Farmasi EWU yang melaksanakan magang di laboratorium farmasi EWU. Penulis merasakan banyak sekali perbedaan yang dirasakan selama mengikuti program tersebut. Ada suka-duka yang diperoleh selama bekerja disana. Pertama, penulis menjadi terbiasa on time. Apabila janji pukul 10 pagi, maka asisten laboratorium yang membantu penulis bekerja di lab sudah menunggu 30 menit sebelum jam 10 pagi. Penulis bekerja dari pukul 10 pagi sampai 5 sore waktu Korea dari hari Senin sampai Jumat. Terkadang penulis bisa pulang terlambat hingga pukul 7 malam karena sebelum pulang penulis harus minta izin terlebih dulu kepada asisten laboratorium. Kedua, penulis dituntut untuk bekerja cepat karena mereka terbiasa dengan budaya bergerak cepat, sehingga penulis yang terbiasa bekerja santai ketika di Indonesia sering dimarahi disana. Budaya kerja mereka dikenal ppali-ppali atau hurry up sempat membuat penulis terburu-buru menyelesaikan tugas. Ketiga, kendala bahasa membuat penulis dan teman-teman disana jadi terbatas dalam berkomunikasi. Contohnya, asisten laboratorium yang membimbing penulis tidak bisa berbahasa Inggris, sehingga ketika ia menjelaskan kepada penulis, ia telah menulis terjemahan di sebuah buku dan penulis disuruh mempelajarinya dulu atau ia menunjukkan hasil Google translate di HP-nya kepada penulis atau kami berdua menggunakan body language. Cukup terkesan aneh memang, namun begitulah cara kami berkomunikasi. Dan penulis mengerjakan apa yang dijelaskannya sendirian. Walaupun demikian, tidak ada kendala bagi penulis untuk menjalin relasi dengan teman-teman di EWU dan mereka menyambut kedatangan penulis dengan suasana hangat dan akrab. Pada hari terakhir bekerja di laboratorium (21 Juli 2017) penulis diberi kesempatan untuk mempresentasikan Profil Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya beserta hasil project eksperimen kepada teman-teman di EWU dan Professor. Waktu yang diberikan untuk mempresentasikan selama 10 menit dan diikuti 5 menit tanya jawab dalam Bahasa Inggris. Sungguh pengalaman yang sangat luar biasa bagi penulis diberikan kesempatan mempresentasikan Prodi Farmasi FKUB kepada mahasiswa EWU. Setelah mengakhiri sesi presentasi, rupanya civitas akademika EWU telah mempersiapkan pesta perpisahan dan diakhiri dengan saling bertukar kado.

SEP 22

Gambar 14. Penulis Makan Siang Bersama Supervisor dan Teman-Teman Magang dari EWU

Pengalaman yang penulis dapatkan selama mengikuti kegiatan ini tidak akan pernah terlupakan selama hidup penulis. Banyak manfaat yang diperoleh seperti menambah wawasan mengenai farmasi di Korea Selatan, bagaimana sistem pendidikan sekolah farmasi disana (sebagai informasi, di Korea Selatan mahasiswa Farmasi belajar selama 6 tahun agar dapat memperoleh gelar S1 Farmasi), mengetahui perbedaan antara sistem kefarmasian dan kesehatan yang diterapkan di Korea Selatan dan Indonesia, belajar budaya, belajar sejarah di bidang kesehatan Korea Selatan, belajar bahasa, mendapatkan teman baru, dan lain sebagainya. Dari kegiatan ini juga, penulis menyadari bahwa setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Alhasil, penulis berusaha untuk lebih terbuka dan bergaul dengan siapa saja tanpa punya prejudice di awal. Penulis bangga karena bisa terpilih mengikuti program ini sehingga termotivasi untuk berkontribusi dengan total selama masa mengikuti kegiatan SEP dan penulis berharap di tahun kedepannya akan semakin banyak mahasiswa Program Studi Farmasi FKUB yang termotivasi dan mengikuti kegiatan SEP ini. Tidak hanya di Korea saja, namun kegiatan SEP ini bisa diikuti di seluruh negara.

VIVA LA PHARMACIE !