Kuliah Tamu “Prospek Pengembangan Obat Tradisional Menjadi Fitofarmaka”

Penggunaan tanaman obat dalam pengobatan mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Berdasarkan keputuan Kepala Badan POM RI No.HK.00.05.4.2411. tentang ketentuan pokok pengelompokan dan penandaan obat bahan alam Indonesia, maka obat bahan alam dikelompokkan menjadi tiga yaitu jamu/obat tradisional, herbal terstandar, dan fitofarmaka. Pertumbuhan produk fitofarmaka di Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan di Thailan, dan Malaysia. Ada beberapa faktor yang menghambat pertumbuhan produk fitofarmaka, antara lain : tingginya biaya yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai uji dan penelitian hingga mencapai produk fitofarmaka, rendahnya perhatian pemerintah pada pengembangan obat bahan alam di Indonesia, rendahnya transfer hasil penelitian dari universitas ke industri farmasi, serta hanya beberapa industri farmasi yang bersedia bekerja sama untuk melakukan penelitian terkait pengembangan produk fitofarmaka. Disamping itu sosialisasi tahapan dan prosedur yang harus dilakukan untuk pengembangan fitofarmaka masih sangat minimal dilakukan oleh BPOM, sehingga banyak peneliti baik di universitas maupun lembaga penelitian tidak mengetahui data apa saja yang mereka butuhkan untuk mendaftarkan suatu produk OHT atau fitofarmaka. Target pasar untuk produk fitofarmaka juga merupakan salah satu masalah dalam proses pengembangan produk, karena sebelum melakukan kerja sama antara industri farmasi dengan peneliti, tentu sangat penting untuk menentukan target pasar, sehingga produk yang diproduksi mampu menarik perhatian konsumen. Memilih target pasar tentu sangat berkaitan dengan menentukan produk seperti apa dan untuk indikasi apa yang akan dikembangkan, sehingga pemilihan indikasi serta fungsi obat menjadi sangat penting untuk keberlangsungan produk tersebut. Beberapa produk fitofarmaka bahkan sudah jarang ditemui di pasaran. Hal ini selain dikarenakan kurangnya informasi/iklan dari pihak produsen juga bisa disebabkan oleh karena faktor indikasi yang kurang menarik perhatian target pasar.

Program Studi Sarjana Farmasi mengadakan kuliah tamu dengan tema “Pengembangan obat bahan alam dari menjadi fitofarmaka” yang telah dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 25 November 2017. Narasumber pada kuliah tamu ini adalah Prof. Dr.  Drs.Suprapto Ma’at, M.S., Apt., yang merupakan penemu produk fitofarmaka STIMUNO, yang hingga saat ini merupakan salah satu produk imunomodulator dengan tingkat konsumen yang cukup tinggi. Peserta adalah mahasiswa Sarjana Farmasi semester III dan semester VII yang sedang mengambil mata kuliah Farmakognosi dan Aromaterapi. Diharapkan dari kuliah ini, mahasiswa bisa memiliki wawasan untuk mengembangkan produk obat bahan alam baik sebagai jamu/obat tradisional, OHT maupun fitofarmaka. Selain itu juga memberikan wawasan, tahapan apa saja yang harus dilakukan pada pengembangan produk fitofarmaka, serta bagaimana memilih produk yang memiliki target pasar tinggi.