Farmasi

Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
Ditulis pada 10 Juni 2014 , oleh farmasi_admin , pada kategori Agenda Kegiatan, Berita

PELAKSANAAN SINKRONISASI LEARNING OUTCOME (CAPAIAN PEMBELAJARAN)

LULUSAN JENJANG PENDIDIKAN FARMASI BERDASARKAN

KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA (KKNI) 

 

Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (PSF FKUB) menggelar Acara Seminar dan Lokakarya Sinkronisasi learning Outcome (Capaian Pembelajaran) Lulusan jenjang pendidikan Farmasi berdasarkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) pada tanggal 7 juni 2014 bertempat di Gedung Pusat Pendidikan FKUB yang dihadiri seluruh staff pengajar FKUB dan beberapa undangan dari institusi pendidikan tinggi farmasi, perwakilan Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar, Perwakilan Apotek Kimia Farma, perwakilan Badan Pengawas Obat dan Makanan, serta perwakilan Industri PT. Widatra Bhakti.

Narasumber pertama yaitu Ketua umum IAI Drs. NurulFalah Eddy Pariang, Apt. menyampaikan topik: “Kewenangan Lulusan Jenjang Pendidikan Sarjana Farmasi, Apoteker, Master di bidang Kefarmasian dan Spesialis di bidang Kefarmasian”. Materi yang diberikan ketua umum IAI yaitu mengenai Kewenangan Lulusan Jenjang Pendidikan Farmasi yang dapat dilihat dalam peraturan pemerintah no. 51 Tahun 2009 mengenai Pekerjaan Kefarmasian, Standar kompetensi apoteker yang sudah ditetapkan IAI terdiri dari 9 area kompetensi yaitu Praktik Profesional, legal danEtik, Optimalisasi penggunaan sediaan farmasi, dispensing sediaan farmasi dan alkes, Formulasi dan pembuatan sediaaan farmasi, Komunikasi dan Kolaborasi, Upaya preventif dan promotif kesehatan masyarakat, Pengelolaan sediaan farmasi dan  Alkes, Kepemimpinan dan manajemen diri, Peningkatan kompetensi profesi. Penjelasan jenis dan jenjang pendidikan farmasi dapat dilihat dalam peraturan UU no.12 tahun 2012.

Untitled

Pada sesi berikutnya Ketua APTFI menyampaikan materi mengenai “Learning Outcomes Pendidikan Tinggi Farmasi”. Ketua APTFI menyampaiakan bahwa harapannya di masa mendatang pendidikan profesi apoteker dan sarjana farmasi akan menjadi satu kesatuan (tipe Z) dimana mahasiswa sudah dipaparkan lingkungan kerja kefarmasian sejak awal. Farmasi bidang industri adalah core dari kelimuan farmasi yang tidak boleh dilupakan karena tanpa dasar kemampuan membuat produk obat yang baik tidak akan dapat memberikan konsultasi obat yang benar. Yang juga perlu mendapat perhatian adalah obat tradisional. Pendidik harus menyesuaikan dengan kualifikasi sarjana, tidak boleh terlalu tinggi (menuntut sesuai kualifikasi S2 dan S3 untuk standar S1). Keilmuan dasar malah sering dilupakan sehingga pondasi pemahaman lemah. Selain kompetensi yang dimiliki, lulusan (fresh graduate) juga membutuhkan keterampilan untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru, sedangkan untuk tenaga senior dibutuhkan refreshing melalui Continuous Professional Development (CPD). Idealnya, apoteker yang komprehensif adalah apoteker yang memiliki kompetensi di bidang industri ketika memproduksi obat memiliki orientasi pada penggunaannya oleh pasien dan apoteker yang ada di pelayanan memiliki pemahaman produk tersebut dibuat untuk tujuan apa.

Kurikulum dapat bervariasi tiap PT yang penting mencapai learning outcome. Revisi kurikulum perlu dilakukan setiap saat karena perkembangan ilmu kefarmasian dan tuntutan masyarakat. KKNI memiliki 9 standard dan untuk sarjana penjenjangannya berada di tingkat 6. KKNI diperlukan agar saat AFTA dapat bersaing dengan dunia internasional.Gradasi kemampuan kerja dalam deskripsi KKNI sesuai jenjang S1/S2/S3/profesi. Gradasi pengetahuan yang harus dikuasai dalam deskripsi KKNIsesuai jenjang S1/S2/S3/profesi. Ilmu yang diberikan banyak tetapi pengetahuan tentang implementasinya kurang. Global Competency Framework merupakan gabungan scientific dan management knowledge yang bisa diterapkan di semua bidang kerja (RS, apotek, industri, dll). Mengingat keterbatasan waktu pendidikan (10 semester) maka pendidikan harus diberikan secara komprehensif (scientific dan management). Untuk learning outcome yang maksimal ditentukan oleh input dan prosesnya. LO untuk S1 dan profesi pendidikan farmasi sesuai dengan yang terdapat dalam rumusan standard kompetensi. Draft LO untuk tahap magister dan doktor  tidak berdasarkan kompetensi yang dirumuskan oleh APTFI.Learning outcome antara S1/S2/S3 sudah ada draft tetapi belum ditabulasi. Kurikulum merupakan hak prerogatif tiap PT tetapi sertifikasi tetap dari IAI.

Untitled

Sesi berikutnya adalah presentasi dari para Apoteker praktisi yang menjadi panelis pada seminar ini. Tema materi yang disampaikan oleh para panelis praktisi adalah “Kompetensi apa yang diharapkan dimiliki oleh lulusan S1, Profesi Apoteker, S2, dan S3 dalam bidang kerja masing-masing”. Panelis pertama adalah dari Kepala Instalasi Farmasi Rumah Sakit dr. Saiful Anwar Malang yaitu Dra. Arofa Idha, M.Farm.Klin, Apt. yang memaparkan konsep patient oriented (patient centered care) yang melibatkan peran interprofesional dimana pasien sebagai pusat pelayanan dan merupakan bagian dari tim. Kompetensi Apoteker di RS prakteknya didasari oleh UU no 41/20209 tentangrumah sakit, PP 51/2009 tentang pekerjaan kefarmasian, SK Menkes 1197/2004 tentang standar pelayanan kefarmasian di RS, Standar Akreditasi RS versi 2012 (kewenangan profesi, pengetahuan, ketrampilan), standar kompetensi apoteker Indonesia, perMenPAN 07/2008 tentang jabatan  fungsional apoteker dan angka kreditnya. Lulusan profesi juga diharapkan memahami Alur pelayanan pasien di RS terkait pelayanan kefarmasian mulai assesment pasien, peresepan, dispensing, administrasi, pemantauan, hingga tindak lanjut. Materi farmakoekonomi perlu sudahmenjadi dasar kompetensi yang harus dimiliki Sarjana farmasi, yang dulunya standard untuk magister karena berhubungan erat dengan sistem jaminan kesehatan nasional.

Panelis Industri PT. Widhatra Bhakti yang di wakili oleh Drs. Adi suroso, Apt. memaparkan bahwa lulusan sarjana farmasi yang melanjutkan pendidikan profesi perlu menguasai materi teknis di industri farmasi yang terdapat dalam buku pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) antara lain ketentuan umum, personalia, bangunan, peralatan, sanitasi, produksi, pengawasan mutu, inspeksi diri, penanganan keluhan obat, dokumentasi, dst. Selain materi teknis, mahasiswa perlu di beri materi tentang berbagai hal tentang keilmuan non teknis salah satunya tentang penentuan biaya/Cost dalam proses produksi Obat yang dipengaruhi berbagai komponen biaya antara lain biaya bahan baku obat, karyawan, lama produksi, jenis bahan kemasan primer dan sekunder, dsb.

Untitled

Panelis dari Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan diwakili oleh Dra. Edi Kusumastuti, Apt. Badan POM sejak 2001 berdiri karena tuntutan perkembangan di masyarakat dengan tugas pokok melaksanakan pengawasan obat dan makanan sesuai peraturan/perundangan. Tuntutan di masyarakat adalah produk bermutu tinggi dan mampu berdaya saing. Standar kompetensi yang dibutuhkan badan POM adalah berdasarkan kompetensi inti dan peran berdasarkan keputusan kepala badan POM. Pengetahuan yang dibutuhkan adalah peraturan perundangan, pengetahuan dasar tentang peralatan lab (pemahaman lulusan biasanya masih sangat lemah), analisis kimia dan mikrobiologi, GMP, peraturan di bidang sediaan farmasi, ilmu komunikasi, Good Laboratory Practice (terutama yang diterapkan di laboratorium kimia dan mikrobiologi), prinsip dasar manajerial, dan pengetahuan akuntansi.

Panelis dari Apotek Kimia Farma Malang yang diwakili oleh Sri Eko Wahyu T.S., S.SI., Apt. menyampaikan peran apoteker sebagai tenaga kesehatan professional dalam pelayanan sediaan kefarmasian berasaskan pharmaceutical care, peran apoteker sebagai manajer yang mengelola berbagai aspek seperti sumber daya manusia, sarana, prasarana, sediaan farmasi, sistem dokumentasi, dan peran apoteker sebagai retailer yang perlu mempelajari ilmu bisnis untuk kemajuan apotek yang dikelola.

Sesi terakhir diisi perwakilan institusi pendidikan farmasi untuk menyampaikan materi Implementasi kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan standar global pendidikan farmasi serta identifikasi kekuatan dan kelemahannya yaitu bapak Dr. rer. nat. Rahmana Emran dari Farmasi ITB , Prof. Dr. Subagus Wahyuono, M.Sc., Apt. dari Farmasi UGM dan Dr. UmiAthijah, MS. Apt. dari Farmasi UNAIR.

Untitled

Pada hari kedua tanggal 8 Juni 2014 Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya melanjutkan seminar & lokakarya Kurikulum PSF FKUB yang dihadiri seluruh staff tenaga pendidik dan staff tenaga kependidikan beserta perakilan mahasiswaa angkatan 2009-2013.Prof. Dr. MunawarIsmail, SE., D.E.A. dari LP3 UB mengawali seminar dengan memberikan Materi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Implikasinya terhadap Pendidikan Tinggi sebagai gambaran KKNI pada staff PSF FKUB.Kemudian Ketua Unit Jaminan Mutu (UJM) PSF FKUB Bachtiar Rifai, S. Farm., Apt. memaparkan gambaran kurikulum PSF FKUB selama periode 2009-2013 kepada peserta seminar. Materi terakhir diberikan Dra. Diana Lyrawati., M.S., Ph.D. mengenai Draft Learning Outcome Pendidikan Farmasi Berdasarkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI)yang telah disusun oleh Tim Pharmaceutical Education Unit (PEU) PSF FKUB. Lokakarya dilakukan dengan membagi kelompok menjadi 3 kelompok dengan perwakilan masing-masing bidang PSF FKUB yaitu farmasi klinis, farmasi komunitas, kimia farmasi, teknologi farmasi, farmakognosi dan fitoterapi beserta perwakilan mahasiswa membahas Draft kurikulum PSF FKUB yang akan diberlakukan pada tahun 2014.